SURAKARTA – Lebih dari 700 mahasiswa memadati Ruang Seminar Gedung Syafi’i Maarif, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 30 Januari 2026. Kehadiran mereka bukan tanpa alasan; Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, Ph.D., hadir langsung untuk memberikan Kuliah Umum (Studium Generale) bertajuk “Persiapan Menghadapi Dunia Kerja di Era Digital”
Bagi mahasiswa Teknik Industri, sosok Prof. Yassierli bukan sekadar pejabat publik. Beliau adalah representasi nyata bagaimana keilmuan Teknik Industri mampu membawa seseorang ke puncak pengabdian negara. Sebagai pakar di bidang Ergonomi dan Tata Letak Pabrik (dan merupakan alumni Teknik Industri), Prof. Yassierli menekankan bahwa disiplin ilmu kita yang berfokus pada efisiensi, sistem terintegrasi, dan interaksi manusia-mesin adalah kunci di era disrupsi digital ini.
Dalam paparannya, Prof. Yassierli membuka realita data tenaga kerja Indonesia per Agustus 2025:
-
Terdapat 154,00 juta angkatan kerja di Indonesia.
-
Tingkat pengangguran terbuka berada di angka 4,85%.
-
Menariknya, meskipun lulusan sarjana terus meningkat hingga 1,3 juta orang per tahun, mahasiswa dituntut memiliki keunggulan unik agar bisa bersaing.
Beliau mengingatkan bahwa lanskap dunia kerja sedang diubah oleh tiga pendorong global: Disrupsi AI & Digitalisasi, Transisi Hijau (Sustainability), serta Pergeseran Demografi. Implikasinya luar biasa:
-
Diperkirakan 170 juta pekerjaan baru akan tercipta pada tahun 2030.
-
Namun, 92 juta pekerjaan lama berpotensi hilang atau tergantikan oleh otomatisasi.
Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Prof. Yassierli menyoroti pentingnya AI Skills, di mana 69% pemimpin di Indonesia menyatakan tidak akan merekrut kandidat yang tidak memiliki keterampilan AI. Beliau membagi kompetensi AI ke dalam empat level:
Basic User: Menggunakan AI apa adanya (menulis, merangkum).
Practitioner: Menggunakan AI secara canggih dan sistematis.
Developer: Mampu mengonfigurasi dan membangun aplikasi AI sederhana.
Architect: Mengintegrasikan AI ke dalam sistem organisasi (Level tertinggi).
Mahasiswa Teknik Industri didorong untuk mencapai level M-shaped competency, yakni memiliki spesialisasi yang mendalam di beberapa bidang sekaligus memiliki wawasan horisontal yang luas agar adaptif terhadap perubahan
Meskipun teknologi mendominasi, Prof. Yassierli menegaskan bahwa Human Skills adalah fondasi utama. AI tidak akan bekerja optimal tanpa sentuhan manusia. Pada tahun 2030, diperkirakan 8 dari 11 core skills yang paling dibutuhkan adalah kemampuan manusiawi seperti:
Analytical & Creative Thinking.
Resilience, Flexibility, & Agility.
Empathy & Active Listening.
Leadership & Social Influence
Mengutip semangat dari Michael Jordan dan BJ Habibie, beliau berpesan agar mahasiswa mengubah Fixed Mindsetmenjadi Growth Mindset. “Kecerdasan dan karakter bisa dikembangkan melalui belajar tanpa henti,” tegasnya melalui contoh kegigihan BJ Habibie dalam menguasai teknologi dirgantara. Kuliah umum ini ditutup dengan ajakan untuk menjadi talenta yang siap masa depan (Future-Ready Talent) dengan menggabungkan Digital Skills dan Human Skills secara harmonis.